Mati Berjalan
๐ต 3012 characters
โฑ๏ธ 4:20 duration
๐ ID: 3156932
๐ Lyrics
Petarung menyendiri
Dalam Rumah sunyi
Lampu badai sudah mulai kehabisan emisi
Gelisah hati semakin tak terkendali
Menanti tentang sesuatu yang tak pasti
Malam berganti siang
Hatipun tak kunjung tenang
Rasa pesimis trus menantang
Lengkapi binar lampu yang semakin remang
Cahaya dibalik tirai silih berganti menghilang
Pakaian telah lusuh
Penantian telah rapuh
Tempat berteduh mulai hadirkan jenuh
Yang ditunggu tak kunjung berlabuh
Waktu begitu semu kala harapan terasa membisu
Keringat membaut
Selaput terpaut
Uban menyahut wajah yang bertambah keriput
Tetap dirumah atau berangkat bertarung
Nafas hidup akan tetap diintai maut
Membunuh lawan temukan kawan
Mencari cara tuk bertahan diantara ancaman angan seperjuangan
Walau yang kini tersisa hanyalah kenangan sejarah pembangkangan
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Belati tersisa temani sunyi
Keterbatasan terus menyesuaikan kendali
Bertahan hidup dalam sepi
Penantian perlahan beralih
Memuai benih
Bisik bisik nurani yang mulai ikhlaskan tragedi
Hujan dan kemarau silih berganti datang dan pergi
Musim telah berbagi dimensi
Waktu telah berbicara tentang sejarah baru yang tergali
Berbagi senyum yang harus dipaksa ada
Kala duka dan luka sudah tak lagi terasa
Pada belukar yang bercerita tentang arah
Dan setiap katarsis harapan yang berjalan melata
Menembus debu angin yang bercerita terbata bata
Noda dikemeja yang kian lusuh
Serasa mengadu pada batu pada kayu
Dan tatapan hanya bisa termangu lugu
Temani kota yang telah penuh dengan debu
Lengkapi keheningan yang terasa semakin dalam membunuh
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Penyakit menular menjalar nalar
Merusak sadar kemanusiaan berubah menjadi altar peperangan bar bar
Terpapar radiasi perspektif hidup hanya untuk makan
Jutaan nyawa serasa bernafas tanpa jiwa
Melangkah tanpa merasakan nilai nilai kehidupan yang nyata
Saling makan sesama halalkan segala cara
Darwinisme takkan pernah punah
Hidup serupa kanibal dalam bentuk Negara
Kebenaran adalah menjilat penjilat
Sodomi pantat penguasa yang burik pekat
Karena politik hitam adalah nostalgia sejarah
Sejak adu domba rakyat adalah pekerjaan utama
Para pemilik kursi parlemen dari hasil negosiasi
Tipu tipu agama dan diskriminasi logika
Demi kesetaraan pemodal, investor dan gaya hidup individual millenial
Benar! Negara tidak boleh bubar
Walau harus melanggar hak asasi manusia dalam lusinan bar
Dari rima yang telah menghajar catatan berdarah rakyat jelata
Disrupsi kebohongan dari delusi keadilan yang nyata
Dalam Rumah sunyi
Lampu badai sudah mulai kehabisan emisi
Gelisah hati semakin tak terkendali
Menanti tentang sesuatu yang tak pasti
Malam berganti siang
Hatipun tak kunjung tenang
Rasa pesimis trus menantang
Lengkapi binar lampu yang semakin remang
Cahaya dibalik tirai silih berganti menghilang
Pakaian telah lusuh
Penantian telah rapuh
Tempat berteduh mulai hadirkan jenuh
Yang ditunggu tak kunjung berlabuh
Waktu begitu semu kala harapan terasa membisu
Keringat membaut
Selaput terpaut
Uban menyahut wajah yang bertambah keriput
Tetap dirumah atau berangkat bertarung
Nafas hidup akan tetap diintai maut
Membunuh lawan temukan kawan
Mencari cara tuk bertahan diantara ancaman angan seperjuangan
Walau yang kini tersisa hanyalah kenangan sejarah pembangkangan
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Belati tersisa temani sunyi
Keterbatasan terus menyesuaikan kendali
Bertahan hidup dalam sepi
Penantian perlahan beralih
Memuai benih
Bisik bisik nurani yang mulai ikhlaskan tragedi
Hujan dan kemarau silih berganti datang dan pergi
Musim telah berbagi dimensi
Waktu telah berbicara tentang sejarah baru yang tergali
Berbagi senyum yang harus dipaksa ada
Kala duka dan luka sudah tak lagi terasa
Pada belukar yang bercerita tentang arah
Dan setiap katarsis harapan yang berjalan melata
Menembus debu angin yang bercerita terbata bata
Noda dikemeja yang kian lusuh
Serasa mengadu pada batu pada kayu
Dan tatapan hanya bisa termangu lugu
Temani kota yang telah penuh dengan debu
Lengkapi keheningan yang terasa semakin dalam membunuh
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
Dari titik kordinat 18.11.19.12
Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
Penyakit menular menjalar nalar
Merusak sadar kemanusiaan berubah menjadi altar peperangan bar bar
Terpapar radiasi perspektif hidup hanya untuk makan
Jutaan nyawa serasa bernafas tanpa jiwa
Melangkah tanpa merasakan nilai nilai kehidupan yang nyata
Saling makan sesama halalkan segala cara
Darwinisme takkan pernah punah
Hidup serupa kanibal dalam bentuk Negara
Kebenaran adalah menjilat penjilat
Sodomi pantat penguasa yang burik pekat
Karena politik hitam adalah nostalgia sejarah
Sejak adu domba rakyat adalah pekerjaan utama
Para pemilik kursi parlemen dari hasil negosiasi
Tipu tipu agama dan diskriminasi logika
Demi kesetaraan pemodal, investor dan gaya hidup individual millenial
Benar! Negara tidak boleh bubar
Walau harus melanggar hak asasi manusia dalam lusinan bar
Dari rima yang telah menghajar catatan berdarah rakyat jelata
Disrupsi kebohongan dari delusi keadilan yang nyata
โฑ๏ธ Synced Lyrics
[00:21.37] Petarung menyendiri
[00:22.64] Dalam Rumah sunyi
[00:23.97] Lampu badai sudah mulai kehabisan emisi
[00:26.52] Gelisah hati semakin tak terkendali
[00:28.97] Menanti tentang sesuatu yang tak pasti
[00:31.88] Malam berganti siang
[00:33.17] Hatipun tak kunjung tenang
[00:35.05] Rasa pesimis trus menantang
[00:36.63] Lengkapi binar lampu yang semakin remang
[00:38.95] Cahaya dibalik tirai silih berganti menghilang
[00:42.60] Pakaian telah lusuh
[00:44.29] Penantian telah rapuh
[00:45.55] Tempat berteduh mulai hadirkan jenuh
[00:47.99] Yang ditunggu tak kunjung berlabuh
[00:50.33] Waktu begitu semu kala harapan terasa membisu
[00:53.79] Keringat membaut
[00:55.02] Selaput terpaut
[00:56.36] Uban menyahut wajah yang bertambah keriput
[00:58.75] Tetap dirumah atau berangkat bertarung
[00:59.87] Nafas hidup akan tetap diintai maut
[01:04.53] Membunuh lawan temukan kawan
[01:07.25] Mencari cara tuk bertahan diantara ancaman angan seperjuangan
[01:11.13] Walau yang kini tersisa hanyalah kenangan sejarah pembangkangan
[01:17.12] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[01:21.14] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[01:24.21] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[01:27.10] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[01:30.31] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[01:33.22] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[01:37.93] Belati tersisa temani sunyi
[01:39.60] Keterbatasan terus menyesuaikan kendali
[01:42.68] Bertahan hidup dalam sepi
[01:44.17] Penantian perlahan beralih
[01:45.76] Memuai benih
[01:46.51] Bisik bisik nurani yang mulai ikhlaskan tragedi
[01:48.94] Hujan dan kemarau silih berganti datang dan pergi
[01:51.85] Musim telah berbagi dimensi
[01:53.66] Waktu telah berbicara tentang sejarah baru yang tergali
[01:56.89] Berbagi senyum yang harus dipaksa ada
[01:58.69] Kala duka dan luka sudah tak lagi terasa
[02:00.70] Pada belukar yang bercerita tentang arah
[02:02.90] Dan setiap katarsis harapan yang berjalan melata
[02:05.56] Menembus debu angin yang bercerita terbata bata
[02:07.65] Noda dikemeja yang kian lusuh
[02:09.20] Serasa mengadu pada batu pada kayu
[02:11.30] Dan tatapan hanya bisa termangu lugu
[02:14.13] Temani kota yang telah penuh dengan debu
[02:15.20] Lengkapi keheningan yang terasa semakin dalam membunuh
[02:22.66] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[02:26.89] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[02:29.68] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[02:32.60] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[02:36.24] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[02:39.41] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[02:41.81] Penyakit menular menjalar nalar
[02:45.09] Merusak sadar kemanusiaan berubah menjadi altar peperangan bar bar
[02:47.42] Terpapar radiasi perspektif hidup hanya untuk makan
[02:50.02] Jutaan nyawa serasa bernafas tanpa jiwa
[02:52.10] Melangkah tanpa merasakan nilai nilai kehidupan yang nyata
[02:54.84] Saling makan sesama halalkan segala cara
[02:57.16] Darwinisme takkan pernah punah
[02:58.41] Hidup serupa kanibal dalam bentuk Negara
[03:00.53] Kebenaran adalah menjilat penjilat
[03:02.43] Sodomi pantat penguasa yang burik pekat
[03:04.06] Karena politik hitam adalah nostalgia sejarah
[03:06.62] Sejak adu domba rakyat adalah pekerjaan utama
[03:08.77] Para pemilik kursi parlemen dari hasil negosiasi
[03:11.11] Tipu tipu agama dan diskriminasi logika
[03:13.59] Demi kesetaraan pemodal, investor dan gaya hidup individual millenial
[03:16.46] Benar! Negara tidak boleh bubar
[03:18.29] Walau harus melanggar hak asasi manusia dalam lusinan bar
[03:21.30] Dari rima yang telah menghajar catatan berdarah rakyat jelata
[03:23.55] Disrupsi kebohongan dari delusi keadilan yang nyata
[04:08.25]
[00:22.64] Dalam Rumah sunyi
[00:23.97] Lampu badai sudah mulai kehabisan emisi
[00:26.52] Gelisah hati semakin tak terkendali
[00:28.97] Menanti tentang sesuatu yang tak pasti
[00:31.88] Malam berganti siang
[00:33.17] Hatipun tak kunjung tenang
[00:35.05] Rasa pesimis trus menantang
[00:36.63] Lengkapi binar lampu yang semakin remang
[00:38.95] Cahaya dibalik tirai silih berganti menghilang
[00:42.60] Pakaian telah lusuh
[00:44.29] Penantian telah rapuh
[00:45.55] Tempat berteduh mulai hadirkan jenuh
[00:47.99] Yang ditunggu tak kunjung berlabuh
[00:50.33] Waktu begitu semu kala harapan terasa membisu
[00:53.79] Keringat membaut
[00:55.02] Selaput terpaut
[00:56.36] Uban menyahut wajah yang bertambah keriput
[00:58.75] Tetap dirumah atau berangkat bertarung
[00:59.87] Nafas hidup akan tetap diintai maut
[01:04.53] Membunuh lawan temukan kawan
[01:07.25] Mencari cara tuk bertahan diantara ancaman angan seperjuangan
[01:11.13] Walau yang kini tersisa hanyalah kenangan sejarah pembangkangan
[01:17.12] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[01:21.14] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[01:24.21] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[01:27.10] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[01:30.31] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[01:33.22] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[01:37.93] Belati tersisa temani sunyi
[01:39.60] Keterbatasan terus menyesuaikan kendali
[01:42.68] Bertahan hidup dalam sepi
[01:44.17] Penantian perlahan beralih
[01:45.76] Memuai benih
[01:46.51] Bisik bisik nurani yang mulai ikhlaskan tragedi
[01:48.94] Hujan dan kemarau silih berganti datang dan pergi
[01:51.85] Musim telah berbagi dimensi
[01:53.66] Waktu telah berbicara tentang sejarah baru yang tergali
[01:56.89] Berbagi senyum yang harus dipaksa ada
[01:58.69] Kala duka dan luka sudah tak lagi terasa
[02:00.70] Pada belukar yang bercerita tentang arah
[02:02.90] Dan setiap katarsis harapan yang berjalan melata
[02:05.56] Menembus debu angin yang bercerita terbata bata
[02:07.65] Noda dikemeja yang kian lusuh
[02:09.20] Serasa mengadu pada batu pada kayu
[02:11.30] Dan tatapan hanya bisa termangu lugu
[02:14.13] Temani kota yang telah penuh dengan debu
[02:15.20] Lengkapi keheningan yang terasa semakin dalam membunuh
[02:22.66] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[02:26.89] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[02:29.68] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[02:32.60] Halo, disini Underground Tauhid menghubungi saluran terbuka
[02:36.24] Dari titik kordinat 18.11.19.12
[02:39.41] Jika ada yang mendengar tolong merespon, copy roger ganti
[02:41.81] Penyakit menular menjalar nalar
[02:45.09] Merusak sadar kemanusiaan berubah menjadi altar peperangan bar bar
[02:47.42] Terpapar radiasi perspektif hidup hanya untuk makan
[02:50.02] Jutaan nyawa serasa bernafas tanpa jiwa
[02:52.10] Melangkah tanpa merasakan nilai nilai kehidupan yang nyata
[02:54.84] Saling makan sesama halalkan segala cara
[02:57.16] Darwinisme takkan pernah punah
[02:58.41] Hidup serupa kanibal dalam bentuk Negara
[03:00.53] Kebenaran adalah menjilat penjilat
[03:02.43] Sodomi pantat penguasa yang burik pekat
[03:04.06] Karena politik hitam adalah nostalgia sejarah
[03:06.62] Sejak adu domba rakyat adalah pekerjaan utama
[03:08.77] Para pemilik kursi parlemen dari hasil negosiasi
[03:11.11] Tipu tipu agama dan diskriminasi logika
[03:13.59] Demi kesetaraan pemodal, investor dan gaya hidup individual millenial
[03:16.46] Benar! Negara tidak boleh bubar
[03:18.29] Walau harus melanggar hak asasi manusia dalam lusinan bar
[03:21.30] Dari rima yang telah menghajar catatan berdarah rakyat jelata
[03:23.55] Disrupsi kebohongan dari delusi keadilan yang nyata
[04:08.25]